Rabu, 08 Mei 2013

KESEHATAN MENTAL


                Mental hygiene merujuk pada pengembangan dan aplikasi seperangkat prinsip-prinsip praktis yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan unsur psikologis dan Pencegahan dari kemungkinan timbulanya kerusakan mental atau malajudjusment. Kesehatan mental terkait dengan (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan menjalani kehidupan sehari-hari; (2) bagaimana kita memandang diri sendiri dan sendiri dan orang lain; dan (3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan. Seperti halnya kesehatan fisik, kesehatan mental sangat penting bagi setiap fase kehidupan. kesehatan mental meliputi upaya-upaya mengatasi stres, berhubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan.
                Kesehatan mental tertentang dari yang baik sampai dengan yang buruk, dan setiap orang akan mengalaminya. tidak sedikit orang, pada waktu-waktu tertentu mengalami masalah-masalah kesehatan mental selama rentang kehidupannya. Fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerjasama satu sama lain sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik).
  1. Hadfield : ”upaya memeliharaan mental yang sehat dan mencegah agar mentak tidak sakit”. 
  2. Alexander Schneiders : ”suatu seni yang praktis dalam mengembangkan dan menggunakan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental dan penyesuaian diri, serta pencegahan dari gangguan-gangguan psikologis”. 
  3. Carl Witherington : ”ilmu pemeliharaan kesehatan mental atau sistem tentang prinsip, metode, dan teknik dalam mengembangkan mental yang sehat”.
KARAKTERISTIK MENTAL YANG SEHAT
1.Terhindar dari Gangguan Jiwa
                Zakiyah Daradjat (1975) mengemukakan perbedaan antara gangguan jiwa (neurose) dengan penyakit jiwa (psikose), yaitu:
  1. Neurose masih mengetahui dan merasakan kesukarannya, sebaliknya yang kena psikose tidak. 
  2. Neurose kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya. sedangkan yang kena psikose kepribadiaannya dari segala segi (tanggapan, perasaan/emosi, dan dorongan-dorongan) sangat terganggu, tidak ada integritas, dan ia hidup jauh dari alam kenyataan.
2.Dapat menyesuaikan diri
                Penyesuaian diri (self adjustment) merupakan proses untuk memperoleh/ memenuhi kebutuhan (needs satisfaction), dan mengatasi stres, konflik, frustasi, serta masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu. Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai denagn norma agama.
3.Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Individu yang sehat mentalnya adalah yang mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya, dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi pengembangan kualitas dirinya. pemanfaatan itu seperti dalam kegiatan-kegiatan belajar (dirumah, sekolah atau dilingkungan masyarakat), bekerja, berorganisasi, pengembangan hobi, dan berolahraga.
4.Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain
Orang yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-responnya terhadap situasi dalam memenuhi kebutuhannya, memberikan dampak yang positif bagi dirinya dan atau orang lain. dia mempunyai prinsip bahwa tidak mengorbankan hak orang lain demi kepentingan dirnya sendiri di atas kerugian orang lain. Segala aktivitasnya di tujukan untuk mencapai kebahagiaan bersama.
Karakteristik pribadi yang sehat mentalnya juga dijelaskan pada tabel sebagai berikut (Syamsu Yusuf LN ; 1987).

ASPEK PRIBADI
KARAKTERISTIK
Fisik
Perkembangannya normal.
Berfungsi untuk melakukan tugas-tugasnya.
Sehat, tidak sakit-sakitan.
Psikis
Respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
Memiliki Insight dan rasa humor.
Memiliki respons emosional yang wajar.
Mampu berpikir realistik dan objektif.
Terhindar dari gangguan-gangguan psikologis.
Bersifat kreatif dan inovatif.
Bersifat terbuka dan fleksibel, tidak difensif.
Memiliki perasaan bebas untuk memilih, menyatakan pendapat dan bertindak.
Sosial
Memiliki perasaan empati dan rasa kasih sayang (affection) terhadap orang lain, serta senang untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan (sikap alturis).
Mampu berhubungan dengan orang lain secara sehat, penuh cinta kasih dan persahabatan.
Bersifat toleran dan mau menerima tanpa memandang kelas sosial, tingkat pendidikan, politik, agama, suku, ras, atau warna kulit.
Moral-Religius
Beriman kepada Allah, dan taat mengamalkan ajaran-Nya.
Jujur, amanah (bertanggung jawab), dan ikhlas dalam beramal.

Uraian diatas, menunjukan ciri-ciri mental yang sehat, sedangkan yang tidak sehat cirinya sebagai berikut :
  1. Perasaan tidak nyaman (inadequacy) 
  2. Perasaan tidak aman (insecurity) 
  3. Kurang memiliki rasa percaya diri (self-confidence) 
  4. Kurang memahami diri (self-understanding) 
  5. Kurang mendapat kepuasan dalam berhubungan sosial 
  6. Ketidakmatangan emosi 
  7. Kepribadiannya terganggu 
  8. Mengalami patologi dalam struktur sistem syaraf (thorpe, dalam schneiders, 1964;61).

konseling agama



A. Pengertian dan Tujuan
Menurut H.M Arifin ( 1982:2 ) dalam bukunya “ Bimbingan dan Konseling “ beliau menyatakan bahwa pengertian Konseling Agama adalah: Usaha pemberian bantuan kepada seseorang yang mengalami kesulitan baik lahiriah maupun batiniah yang menyangkut kehidupannya di masa kini dan di masa mendatang. Bantuan tersebut berupa pertolongan di bidang mental dan spiritual, agar orang yang bersangkutan mampu mengatasinya dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri maupun dorongan dari kekuatan iman dan takwa kepada Tuhan.

Adapun pengertian Konseling agama lebih spesipik lagi yaitu pengertian konseling agama Islam ialah proses pemberian bantuan kepada individu agar menyadari / menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya dalam kehidupan keagamaannya senantiasa selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Pada konseling ini penekanannya pada upaya kuratif atau pemecahan masalah yang dihadapi seseorang, secara Islami berarti konseling agama Islam membantu individu menyadari kembali ke beradaan atau eksistensinya sebagai makhluk Allah, sebagai ciptaan Allah yang diciptakan-Nya sesuai dengan petunjuk-Nya.

Menyadari eksistensinya sebagai makhluk Allah berarti menyadari bahwa dalam dirinya Allah telah menyertakan fitrah untuk beragama Islam dan menjalankan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pendidikan Nasional, berdasarkan Pancasila dan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, meningkatkan Kualitas manusia Indonesia, meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa yang mana semua ini merupakan suatu strategi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Dengan berpedoman atas garis-garis besar Program Pengajaran yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, baik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1975 maupun oleh Menteri Agama RI tahun 1976. Pendidikan-pendidikan di sekolah menghendaki terwujudnya manusia baru sesuai dengan falsafah Pancasila yaitu manusia yang dapat hidup dalam pola keseimbangan, keserasian dan keselarasan hubungan-hubungan antara :
  1. Pribadi dengan Tuhannya
  2. Pribadi dengan Masyarakat
  3. Pribadi dengan alam sekitar
  4. Pribadi dengan dirinya sendiri
Manusia baru Indonesia yang kita kehendaki adalah manusia yang serba utuh lahir dan batinnya, dalam hidup duniawi dan ukhrowinya yang mampu membangun diri dan masyarakatnya dan negaranya dengan bekal ilmu dan keterampilan yang dijiwai oleh nilai-nilai agamanya. Untuk mewujudkan manusia yang demikian itu, tidaklah cukup hanya ditangani melalui pendidikan formal dan nonformal semata-mata, melainkan perlu pula ditunjang dengan program lainnya secara menyeluruh seperti program bimbingan dan konseling umum dan Agama dan sebagainya. Melalui peningkatan pelaksanaan program bimbingan dan konseling Agama, program pendidikan atau pengajaran di sekolah dan luar sekolah akan lebih lan cara pelaksanaannya. Adapun tujuan dan fungsi dari Konseling Agama diantaranya :
  1. Untuk mengungkapkan kemampuan dasar mental-spiritual dan agama dalam pribadi anak agar diaktualisasikan dan difungsionalkan menjadi tenaga pendorong (motivator) bagi peningkatan proses kegiatan belajar mengajar anak didik.
  2. Berusaha meletakkan kemampuan mental-spiritual tersebut sebagai benteng pribadi anak didik dalam menghadapi tantangan dan rongrongan dari luar dirinya, baik yang berbentuk mental maupun yang berbentuk material.
  3. Berusaha menanamkan sikap dan orientasi kepada hubungan dalam empat arah yaitu dengan Tuhannya, dengan masyarakatnya, dengan alam sekitarnya dan dengan dirinya sendiri sehingga menjadi pola hidup yang bersendikan nilai-nilai agamanya.
  4. Berusaha mencerahkan kehidupan batin sehingga segala kesulitan yang dihadapi, akan mudah diatasi dengan kemampuan mental rohaniahnya.
A. Sekilas Pandang Hakikat dan Tujuan manusia 
Islam memandang manusia sebagai satu kesatuan yang terdiri dari ruh, jasad dan akal yang saling terikat dan tidak mungkin dipisahkan menjadi beberapa bagian. Manusia bukanlah ruh tanpa jasad, bukan hanya makhluk yang hanya terdiri dari jasad tanpa akal, atau hanya terdiri dari jasad tanpa ruh.Sisi-sisi tersebut merupakan kesatuan yang saling berkaitan, baik dari fisik maupun psikisnya. Agama Nasrani, Budha, dan Hindu melihat manusia hanya dari sisi ruh dan mengabaikan sisi yang lainnya, melihat setiap ynag bersifat ruhiyah adalah benar, harus diperhatikan dan di dukung keberadaannya, dan semua yang bersifat materi adalah kotor. Padahal mereka pasti memerlukan materi yang mereka beri cap jelek, hina, dan harus dijauhi. Hal tersebut menyebabkan dampak negative yang destruktif, yang mewariskan kejahatan dan kehancuran dari sisi materi serta mengalami keterbelakangan dalam kehidupan.
Islam adalah konsep yang menggabungkan antara sisi materi dan sisi ruhiyah manusia, jauh dari penyelewengan seperti halnya konsep-konsep yang lain. Islam menyakini sisi materi manusia, karena manusia tercipta dari segenggam tanah, sebagaimana firman Alloh S.W.T, “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘ Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah’.” ( Qs. Shaad(38):71). Di samping Islam mengakui sisi ini, Islam juga memenuhi kebutuhannya ( seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan segala kebutuhan jasad lainnya ) dengan jelas dan pasti. Islam mempunya pandangan seperti ini agar manusia mampu mengemban tugas yang Alloh S.W.T bebankan kepadanya, yaitu khilafah dan memakmurkan dunia ini, sebagaimana firman Alloh S.W.T,:” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al-Baqarah : 30).
Manusia diciptakan dengan diberi perangkat akal, dan ini adalah sebab utama Alloh SWT membebaninya dengan tugas berat ini yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini. Selain kedua hal tadi, Islam juga menyakini bahwa manusia mempunyai sisi ruhiyah yang di tandai dengan ditiupkannnya ruh kedalam tubuh manusia, seperti yang difirmankan Alloh SWT, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud .” (Qs. Al-Hijr :29). Sisi itulah yang merupakan letak kemuliaan manusia, yaitun suatu dimensi dimana manusia melampaui derajat yang paling sempurna dari sisi moral kemanusiaan. Sisi inilah yang membedakan setiap gerakan jasad manusia dengan hewan, karena Alloh SWT juga menciptakan hewan dengan perangkat ini, walaupun berbeda cara pemenuhannya.Islam tidak mengesampingkan sisi yang terpenting manusia sebagai individu, sisi itu ialah kantung nilai moral dan akhlak yang bertugas mengendalikan setiap gerakan jasad manusia agar tidak menyeleweng dari aturan. Seandainya kebutuhan-kebutuhan itu tidak dipenuhi dengan benar , maka keseimbangan mahkluk manusia akan guncang sehingga akhirnya berjalan dengan pincang dan jatuh tersungkur. Oleh karena itu, Islam mengakui sisi tersebut dan dan memenuhi kebutuhan asasinya yaitu akidah, ibadah, dan nilai-nilai akhlak yang mulia.
Mekanisme ini merupakan upaya untuk menciptakan kebahagiaania manusia yang hakiki dalam mencapai tujuan dalam alam wujud ini, yaitu hanya beribadah kepada Alloh SWT. Alloh SWT berfirman :” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzaariyat:56). Jika tujuan hidup kita pada umumnya hanya untuk beribadah kepada Alloh SWT, maka makna ibadah harus ditinjau dari semua aspek. Ia merupakan panduan yang mencakup semua aspek. Ia merupakan panduan yang mencakup semua sisi kehidupan, hingga aktivitas kita seremeh apapun bernilai ibadah yang harus kita perhatikan dan kita niatkan hanya untuk beribadah karena Alloh SWT.
B. Perilaku Bermasalah Manusia
Dalam pandangan agama, manusia dikatakan mempunyai perilaku yang bermasalah tatkala manusia melakukan sebuah aktivitas yang bertentangan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai agama tersebut yang telah menjadi pegangan hidup. Manusia memberi sifat pada suatu aktifitas dengan baik dan buruk berdasarkan manfaat atau bahaya yang menimpanya sebagai akibat dari perbuatannya adalah sifat yang tidak benar dan tidak tetap, karena sifat itu datang dari manusia. Sedangkan manusia itu tempat perbedaan, perselisihan, pertentangan dan terpengaruh oleh lingkungan.

 Akal manusia yang tidak mampu berbagai akibat sebelum terjadinya akibat-akibat itu. Maka sifat hakiki bagi aktivitas bahwasanya pekerjaan itu baik atau buruk itu tidak datang dari manusia dan tidak pula datang dari pekerjaan itu sendiri. Membunuh adalah satu pekerjaan, kalau dilakukan seorang muslim bisa kmenjadi baik apabila pembunuhan itu membunuh orang yang memerangi, dan bisa menjadi buruk apabila membunuh penduduk warga Negara atau membunuh kafir Mu’ahad. Maka menyifati pekerjaan dengan baik dan burukitu tidak datang dari zat pekerjaan itu dan tidak pula datang dari manusia. Sifat itu hanya datang dari faktor-faktor di luar manusia, dan faktor-faktor ini bersandar pada sudut pandang tentang kehidupan. Yaitu akidah atau keyakinan yang dipeluk oleh manusia, dan pemikiran-pemikiran juga sistem-sistem yang memancar dari akidah.
Sedangkan menurut agama Islam perilaku bermasalah manusia mempunyai standar yang rinci untuk sesuatu yang baik dan buruk. Aktivitas apabila terdiri dari sesuatu yang diridhai Alloh, yaitu dengan menta’ati perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka aktivitas itu baik. Dan apabila aktivitas iti dari hal yang dimurkai Alloh, yaitu karena menyalahi perintah-perintah-Nya serta melaksanakan larangan-larangan-Nya, maka aktivitas tersebut dianggap buruk atau bermasalah. Jadi, baik-menurut orang muslim- adalah sesuatu yang diridhai Alloh. Sedangkan buruk adalah sesuatu yang dimurkai Alloh SWT. Shalat, jihad dan mengemban dakwah adalah baik karena diridhoi Alloh, sedangkan riba, zina adalah buruk karena dimurkai Alloh tanpa memandang manfaat atau bahaya yang menimpa manusia dalam kehidupan dunia sebagai akibat dari perbuatannya. Kemudian kehidupan akhirat, yaitu tempat kenikmatan yang abadi di syurga, atau adzab yang sangat menyakitkan di neraka, sebagai balasan dari apa yang telah dikerjakan manusia dari perbuatan baik atau buruk. Alloh SWT berfirman :” Maka siapa saja yang mengerjakan kebajikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” ( Qs. Al-Zalzalah:7-8).
Bagi pembimbing dan konselor agama, sasaran psikologis yang perlu dipahami ialah perkembangan kemampuan beragama anak bombing sesuai dengan tingkat-tingkat atau periode-periodenya secara individual. Dari segi preventif, bimbingan dan konseling agama harus dapat menghindarkan anak bombing dari segala bentuk gangguan atau hambatan dalam proses pembinaan hidup beragama, misalnya sering timbulnya sikap keragu-raguan dalam jiwa anak bombing terutama pada periode menginjak masa puberitas, karena akibat perkembangan kecerdasan pikiran sehungga bersikap kritisasional dalam menerima dogmatika agama yang dianggap kurang kontekstual dengan kenyataan hidup masyarakat dan ilmu pengetahuan modern yang canggih saat ini, dan yang akan datang. Juga keragu-raguan timbul karena kekecewaan (frustasi) akibat usaha atau harapan tidak terpenuhi, seperti dalam agama diajarkan bahwa barangsiapa berdoa sungguh-sungguh, pasti akan di kabulkan. Sedang kenyataannya dia gagal dalam ujian, padahal telah berkali-kali berdo’a dengan khusyu’ dan sepenuh hati sebelumnya.
Keragu-raguan karena melihat kenyataan hidup dalam masyarakat yang bertentangan dengan nialai-nilai agama yang diajarkan di sekolah, seperti, adanya kenyataan orang yang tekun beribadah justru banyak yang miskin, sedang orang lain banyak dilimpahi rizki oleh Tuhan, timbulnya pelanggaran susila dalam pergaulan masyarakat atau sadism atau kemunafikan dikalangan umat beragama tertentu dan sebagainya. Perasaan stress (tertekan), kecemasab dan keresahan batin, karena pengaruh faktor dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal) sering menimbulkan tindakan-tindakan remaja nakal yang beraneka macamnya sampai pelanggaran susila, sadism dan kejahatan lainnya. Harus dikaji sumber penyebabnya, apakah karena pengaruh keretakan keluarganya, atau karena pergaulan, ataukah Karen afaktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, tugas pembimbing dan konseling agama mempunyia sasaran luas seiring dengan tuntutan kebutuhan perkembangan hidup anak bombing itu sendiri akibat dampak-dampak kemajuan kebudayaan dan ilmu atau teknologi modern. Semakin manusia modern maka semakin kompleks (ruwet) jiwanya, dan semakin meningkat tuntutan hidupnya, tetapi semakin kurang peka kepada sentuhan agama.
C. Metode Konseling Agama
Dalam proses kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, bimbingan dan konseling agama pada khususnya di sekolah, salah satu komponen yang penting adalah metode yang perlu diterapkan. Efektivitas suatu metode ditentukan oleh sikap dan pendekatan pembimbing atau Konselor terhadap sasaran terbimbing ( anak bombing ), di samping jenis atau bentuk dari metode itu sendiri, sejauh mana kesesuaiannya atau ketetapannya terhadap saasaran yang digarap. Metode bimbingan dan konseling agama berfungsi sebagai penunjang kelancaran program pendidikan di sekolah yang pelaksanaannya berdasarkan atas pendekatan individual atau kelompok.
Ada beberapa metode yang lazim dipakai dalam bimbingan dan konseling agama dimana sasarannya adalah mereka yang berada didalam kesulitan mental-spiritual disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dari dalam dirinya sendiri, seperti tekanan batin (depresi mental), gangguan perasaan (emotional disturbance), tidak mampu mengadakan konsentrasi pikiran, dan gangguan batin lainnya yang memerlukan pertolongan. Dan juga disebabkan oleh faktor-faktor dari luar dirinya, seperti pengaruh dari lingkungan hidup yang menggoncangkan perasaan (misalnya, orang yang dicintai telah meninggalkan dirinya), pekerjaan rumah yang berat sehingga menghambat proses belajar mengajar di sekolah, dan lain-lain penyebab yang banyak menimbulkan hambatan batin anak bimbing.
Untuk mengungkapkan segala sesuatu yang menjadi sebab kemunduran prestasi belajar, maka anak bimbing perlu didekati melalui metode sebagai berikut:
1. Wawancara, adalah salah satu cara memperoleh fakta-fakta kejiwaan yang dapat dijadikan bahan pemetaan tentang bagaimana sebenarnya hidup kejiwaan anak bimbing pada saat tertentu yang memerlukan bantuan.
Wawancara baru dapat berjalan dengan baik bilamana memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. Pembimbing harus berkomunikatif dengan anak bimbing.
  2. Pembimbing harus dapat dipercayai oleh anak bimbing sebagai pelindung.
  3. Pembimbing harus dapat menciptakan situasi dan kondisi yang memberikan perasaan damai dan aman serta santai kepada anak bimbing.
  4. Pembimbing harus dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyinggung perasaan anak bimbing.
  5. Pembimbing harus dapat menunjukkan i’tikad baiknya dalam menolong anak bimbing mengatasi segala kesulitan yang sedang dihadapi.
  6. Masalah-masalah yang ditanyakan oleh pembimbing harus benar-benar mengenai sasaran (to the point) yang ingin diketahui.
2. Segala fakta yang diperoleh dari anak bimbing dicatat secara teraturdan rapi didalam buku catatan (cumulative records) untuk anak bimbing yang bersangkutan serta disimpan baik-baik sebagai file (dokumen penting). Pada saat dibutuhkan, catatan pribadi tersebut dianalisis dan diidentifikasi untuk bahan pertimbangan tentang metode apakah yang lebih tepat bagi bantuan yang harus diberikan kepadanya.
3. Metode Group-guidance (bimbingan kalompok) Bilamana metode interview atau wawancara merupakan cara pemahaman tentang keadaan anak bimbing secara individual (pribadi), maka bimbingan kelompok adalah sebaliknya, yaitu cara pengungkapan jiwa/batin serta pembinaannya melalui kegiatan kelompok, seperti ceramah, diskusi, seminar, simposium, atau dinamika kelompok (group dynamics), dan sebagainya.
Metode baru dapat berjalan dengan baik bilamana memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. Berlangsung ditempat yang cukup tenang, jauh dari gangguan apapun, sebaiknya tempat tersebut memiliki ventilasi udara dan cahaya sinar matahari atau lampu.
  2. Kelompok tidak terlalu besar, sebaiknya jangan lebih dari 13 orang.
  3. Secara periodik perlu diisi dengan ceramah-ceramah tentang topik-topik masalah yang berkaitan dengan pengembangan karier, pekerjaan, danjabatan-jabatan yang tersedia.
  4. Sebelum melaksanakan bimbingan kelompok, hendaknya pembimbing agama mengadakan musyawarah dengan anaqk bimbing tentang kegiatan yang sangat penting dan diperlukan oleh mereka hendaknya mereka yang menjadi penanggung jawab/penyelenggaranya.
  5. Mengikutsertakan staf administratif, staf guru, guru kelas, wali kelas dan sebagainya, yang disetujui oleh kepala sekolah.
  6. Waktu yang disediakan jangan terlalu sempit, sekurang-kurangynya 2 jam pelajaran.
4. Metode Nondirektif (cara yang tidak mengarahkan), Cara lain untuk mengungkapkan segala perasaan dan pikiran yang tertekan sehingga menjadi penghambat kemajuan belajar anak bombing adalah metode nondirektif. Metode ini dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
  1. Client centered, yaitu cara pengungkapan tekana batin yang dirasakan menjadi penghambat anak bimbing dalam belajar dengan sistem pancingan yang berupa satu-dua pertanyaan yang terarah.
  2. Metode direktif yaitu cara pengungkapan tekanan perasaan yang menghambat perkembangan belajar dengan mengkorek sampai tuntas perasaan yang menyebabkan hambatan dan ketegangan, dengan cara client centered yang diperdalam dalam pertanyaan yang motifatif dan persuasif (meyakinkan) untuk mengingat-ingat, serta didorong untuk berani mengungkap perasaan tertekan sampai keakar-akarnya.
5. Metode Psikoanalitis (penganalisaan psikis), metode ini berasal dari teori psiko-analisa Freud yang digunakan untuk mengungkapkan segala tekanan perasaan, terutama perasaan yang tidak didasari. Menurut teori ini, manusia yang senantiasa mengalami kegagalan usaha dalam mengejar cita-cita atau keinginan, menyebabkan timbulnya perasaan tertekan yang makin lama makin membengkak. Untuk memperoleh data-data tentang jiwa tertekan bagi penyembuhan klien tersebut, diperlukan metode psikoanalisis yang menganalisis gejala tingkah laku yang serba salah dengan menitik beratkan pada perhatian berulang-ulang.
Adapun tentang mimpi, Freud, menyebutkan sebagai Via Regia yaitu jalan raya yang dapat memberikan petunjuk tentang rahasia pribadi pemimpi yang bersangkutan. Sebaiknya soal mimpi tidak perlu kita gunakan untuk menganalisis jiwa klien.
6. Metode Direktif (Metode yang bersifat mengarahkan), metode ini lebih bersifat mengarahkan kepada anak bimbing untuk berusaha menghadapi kesulitan (problema) yang dihadapi. Pengarahan yang diberikan kepada anak bombing ialah dengan memberikan secara langsung jawaban-jawaban terhadap permasalahan yang menjadi sumber kesulitan yang dihadapi/dialami anak bombing. Metode ini selain dipakai oleh para konselor pendidikan atau konselor agama juga banyak digunakan oleh para dokter umum, dokter jiwa (psycheater), penyuluh sosial.
7. Metode lainnya yang berkaitan dengan sikap sosial dalam hubungannya dengan pergaulan anak bimbing sering dipakai metode sosiometri, yaitu suatu cara yang dipergunakan untuk mengetahui kedudukan anak bimbing dalam berhubungan kelompok.
D. Konseling dengan pendekatan Religio-Psychotherapy
Konseling agama atau di Barat disebut Pastoral cuonseling , yang bertujuan pokok untuk memberikan bantuan pemecahan problema kehidupan anak bombing secara individual, dengan melalui proses pencerahan batin lewat potensi keimanan yang semakin kuat berpengaruh dalam pribadi, sesuai dengan agama yang dianut anak bombing pada hakikatnya tidak juga terlepas dari psikoterapi yaitu terapi yang didasarka pada pendekatan keagamaan individual yang bersangkutan. Sebagaimana pengalaman seorang ahli penyakit jiwa atau saraf, Dr. Carl Gustav Jung, dari Swiss, menunjukkan bukti bahwa penyakit pasiennya yang berusia 35 tahun ke atas baru dapat disembuhkan bila mereka dapat menemukan jalan keluar melalui penemuan kembali keimanannya sesuai ajaran agama yang dianut.Dr.Jung menerapkan psikoterapi berdasarkan pendekatan agama yang kemudian dikenal dengan “ Religio-psychotherapy” yaitu penyembuhan penyakit melalui hidup kejiwaan yang didasari dengan nilaki keagamaan.
Beberapa ahli kedokteran jiwa meyakini bahwa penyembuhan penyakit pasien dapat dilakukan lebih cepat jika digunakan metode pendekatan keagamaan, yaitu dengan membangkitkan rasa keimanan kepada Tuhan lalu menggerakkannya kea rah pencerahan batinnya yang pada akhirnya menimbulkan kepercayaan diri bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa adalah satu-satunya kekuatan penyembuh penyakit yang diderita. Dalam agama Islam terdapat beberapa ayal Al-Quran yang menunjukkan bahwa Tuhan membuat seseorang menderita sakit dan Dialah yang menyembuhkannya ( seperti ucapan Nabi Yahya yang menyatakan :” jika aku sakit maka Dialah yang menyembuhkannya. “ )( Qs As-Syu’aro:80 ). Dan juga sabda Nabi SAW yang menyatakan : “ Alloh tidaklah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia juga menurunkan obat penyembuhnya.” Juga Alloh menyebutkan dalam kitab suci Al-Quran bahwa Alloh tidak menurunkan Al-Quran melainkan untuk menjadi obat penyhembuh bagi orang mukmin antara lain seperti firman Alloh SWT, : “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian belaka .”Qs. Al-isra:82.
Dalam kasus Nabi Muhammad sendiri yang pernah disihir oleh orang kafir, dapat disembuhkan dengan membaca surat Al-Falaq. Dengan demikian jika dilihat dari peristiwa sejarah pada masa Nabi, sistem penyembuhan ( healing ) terhadap penyakit psikosomatis, dilakukan dengan religio-psikoterapi meskipun saat itu belum didasari dengan sistem pendekatan disiplin ilmu, namun hanya berdasarkan petunjuk wahyu Tuhan semata-mata. Faktor keyakinan pribadi yang berupa iman tersebut dapat berfungsi sebagai sumber kekuatan penyembuh terhadap penyakit rohaniah pada khususnya.
Pengalaman Dr. Leslie Wetherhead, juga menunjukkan bukti bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara penyakit jiwa dengan hilangnya makna nilai-nilai keagamaan dari dalam diri manusia. Buku karangannya yang berjudul Psychology, Religion and Healing menceritakan tentang pengalaman-pengalaman tersebut. Begitu pula Dr.H.C Link mendapatkan bukti-bukti sama dan pengalamannya ditulis dalam buku yang berjudul “ The Return to Religion”. Penerapan religio-psychotherapy untuk menyembuhkan penyakit jiwa oleh Dr. Norman Vincent Peale dari Amerika Serikat, juga terbukti efektif. Ia menuliskan pengalamannya dalam buku karangannya yang berjudul “ The Power of Positive Thinking”. Di Florida, Amerika Serikat ada sebuah Lembaga Penelitian tentang penyembuhan penyakit jiwa melalui daya pengaruh bacaan Al-Quran dalam berbagai kasus penelitian atau percobaan yang terdiri dari kelompok percobaan seperti kelompok (percobaan) yang terdiri dari orang-orang yang mengerti bahasa Al-Quran dan kelompok (percobaan) yang tidak mengerti makna ayat-ayat Al-Quran yang harus mendengarkan bacaan al-Quran. Ternyata bagi kelompok pertama, dapat memperoleh kesembuhan secara bertahap. Bagi kelompok kedua juga memperoleh kesembuhan yang kurang intensitasnya di banding dengan kelompok pertama yang dapat memahami isi bacaan ayat-ayat Al-Quran.

Manajemen Pendidikan


1.      Pengertian Manajemen
1)      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Manajemen adalah “penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran” atau “pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusaahaan dan organisasi

2)      Pengertian managemen menurut oxford adalah “the process of dealing with or controlling people or things” (proses berurusan dengan atau mengendalikan orang atau benda).
3)      Menurut R. Terry : Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.
4)      Menurut James A.F. Stoner : Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian dan menggunakan sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi tang telah ditetapkan.
5)      Menurut Drs. Oey Liang Lee : Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.      Pengertian Pendidikan
1)   Menurut Juhn Dewey;
Pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal inimungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda,mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
2)   Menurut H. Horne;
Pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
3)    Menurut Frederick J. Mc Donald;
Pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh sesorang.
4)    Menurut M.J. Langeveld;
Pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.

3.      Pengertian Administrasi
 Administrasi dapat diartikan dalam arti sempit dan luas. Soewarno Handayaningrat mengatakan “Administrasi dalam arti sempit berasal dari kata Administratie (bahasa Belanda) yaitu meliputi kegiatan catat-mencatat, surat-menyurat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda, dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan” (1988:2).

Sedangkan dalam arti luas dapat disimpulkan pada dasarnya mengandung unsure pokok yang sama yaitu adanya kegiatan tertentu, adanya manusia yang melakukan kerja sama serta mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. (lihat pengertian Administrasi menurut William H. Newman) 
Mengapa Administrasi dibutuhkan
Administrasi dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial bahwa dia tidak dapat berdiri sendiri tapi harus melakukan kerja sama dengan orang lain yang mempunyai ide dan tujuan yang sama, dengan melakukan administrasi maka tujuan tersebut akan tercapai.
 Administrasi sebagai Seni, Ilmu, dan Profesi
Administrasi sebagai seni artinya bagaimana menerapkan knowledge (science) dengan menggunakan kemahiran, keterampilan, dan pengalaman yang dilakukan oleh para administrator (top, middle, lower) dengan melalui peraturan ataupun kebijakan dalam kegiatan kerja sama dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Administrasi sebagai Ilmu artinya administrasi merupakan hasil penyelidikan secara kritis atas pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh ilmuwan, baik secara empiris maupun transidental terhadap ilmu administrasi dan administrasi adalah disiplin ilmu yang dapat mengantar para ilmuwan administrasi untuk berpikir kritis, rasional, obyektif, efisien, dan efektif.
 Administrasi sebagai profesi meruapakan suatu jenis lapangan pekerjaan yang memerlukan keahlian dalam administrasi yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang ketat. Oleh karena itu seorang administrator atau manajer adalah professional yang spesialis, dididik dan dilatih dalam lapangan pengetahuan administrasi.

4.      Pengertian Manajemen Pendidikan

1)      Manajemen Pendidikan menurut Djam’an Satori, (1980: 4). Manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
2)      Manajemen Pendidikan menurut Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4). Manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan.
3)      Manajemen Pendidikan menurut Soebagio Atmodiwirio. (2000:23). Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
4)      Manajemen Pendidikan menurut Engkoswara (2001:2). Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama.
5)      Manajemen Pendidikan menurut Purwanto dan Djojopranoto (1981:14) : Manajemen pendidikan merupakan suatu usaha bersama yang dilakukan untuk mendayagunakan semua sumber daya baik manusia, uang, bahan dan peralatan serta metode untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.


5.      Perbedaan antara Manajemen dan Administrasi
1)      Pendapat yang menyatakan bahwa administrasi berbeda dengan manajemen. Hal ini terutama di bidang administrasi Negara, administrasi Pemerintah yang dilakukan oleh Presiden dan para Menteri sebagai penentu kebijaksanaan dalam rangka mencapai tujuan negara. Sedangkan yang wajib melaksanakan kebijaksanaan tersebut ialah manajemen. Manajer bertanggung jawab untuk melaksanakannya ke arah tercapainya tujuan tersebut.
2)      Perbedaan yang jelas BPA (Balai Pembinaan Administrasi) menempatkan administrasi pada posisi dengan batasan yang luas, dan manajemen merupakan bagian dari administrasi. Menurut BPA, administrasi merupakan segenap proses penyelenggaraan atau penataan tugas-tugas pokok sesuatu usaha kerjasama sekelompok orang  dalam mencapai tujuan bersama. Dan membatasi manajemen sebagai salah satu usaha yang hanya membatasi pada segi kepemimpinan yang mengarahkan orang-orang yang bekerjasama berikut pengarahan fasilitas-fasilitasnya sehingga semua dapat berjalan dengan baik.
3)      Administrasi lebih luas dari pada manajemen karena manajemen sebagai salah satu unsur dan merupakan inti dari administrasi sebagai pelaksana yang bersifat operasional melainkan mengatur tindakan -tindakan pelaksanaan oleh sekelompok orang yang disebut "bawahan" jadi dengan manajemen administrasi akan mencapai tujuannya. Dan dapat disimpulkan pula bahwa kegiatan manajemen juga merupakan unsur dari administrasi, bukan merupakan faktor terjadinya administrasi. 

6.      Bentuk Manajemen Sekolah : a).  Manajemen Pendidikan  b).  Manajemen Sekolah

a)      Manajemen Pendidikan, meliputi: (1) manajemen kurikulum; (2) manajemen personalia; (3) manajemen kesiswaan; (4) manajemen keuangan; (5) manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah.
b)      Manajemen Sekolah, meliputi:
·         Bidang kurikulum (pengajaran).
·         Bidang kesiswaan.
·           Bidang personalia yang mencakup tenaga edukatif dan tenaga administrasi.
·            Bidang sarana yang mencakup segala hal yang menunjang secara langsung pada pencapaian tujuan.
·         Bidang prasarana yang mencakup segala hal yang menunjang secara tidak langsung pada pencapaian tujuan.
·         Bidang hubungan dengan masyarakat, berkaitan langsung dengan bagaimana sekolah dapat menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar.