Kamis, 04 April 2013

ISLAM dan PENDIDIKAN KARAKTER


A.PENGERTIAN PENDIDIKAN KARAKTER 

Menurut pendapat kardinata (2010)karakter itu menyangkut perilaku yang sangat luas, mengandung nilai – nilai kerja keras ,kejujuran ,disiplin mutu ,estetika, komitmen , empati, tanggung jawab, dan rasa kebangsaan yang kuat. Pendidikan karakter adalah proses ber kelanjutan yang tak pernah berakhir, selama sebuah  bangsa dan ingin tetap eksis. Pendidikan karakter  menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan alih generasi.
Adapun istilah karakterbangsa  tidaklah sama dengan  penjumlahan  karakter perorangan , karena dalam karakter bangsa terkandung perekat budaya yang tercermin dalam kesadaran budaya dan kecerdasan budaya setiap warga negara.
Pendidikan karakter harus dilandasi oleh pemahaman terhadap siswa secara mendalam , menyatu dalam proses pembelajaran yang mendidik, disadari oleh pendidik sebagai tujuan pendidikan, dan tidak berwujud sebagai mta pelajaran khusus.
Pendidikan karakter  memerlukan pula kebijakan dan birokrasi yang mendukung pengembangan budaya belajar. Pola pikir para pejabat pendidikan dipusat dan didaerah harus mampu melihat melihat dan memposisikan  pendidikan sebagai proses  membangun karakter, membangun budaya sekolah yang sehat, dan memahami secara benar tentang seripati pendidikan.
Hal yang tidak kalah pentingnya, bahwa pendidikan karater adalahpendidikan sepanjang hayat, yang memerlukan keteladanan dan sentuhan sejak dini hingga dewasa. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus melibatkan berbagai tingkatan, dan linkungan kehidupan, karena tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh sekolah.


B.NILAI – NILAI  PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter meliputi penanaman nilai – nilai : (1) iman ; (2) indah ; (3) santu; (4) sadar waktu;  (5) sadar sosial; (6) sederhana; dan (7) jujur.
Iman adalah puncak tertinggi karakter. Iman merupakan wujud kehendak dalam hati sekaligus wujud perilaku yang memantulkan keyakinan manusia mengenai hubungan diri dengan Tuhannya, lingkungan kemanusiaannyadalam kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat. Iman menjadi sumber dan pedoman perilaku manusia, sejakshalat sampai dengan pembiasaan hidup bersih, bahkan menyingkirkan kulit pisang agar tidak mencelakakan orang.
Indah para pelajar pasti menyukai dan sangat menghargai keindahan. Sekolah adalah lingkungan sosial kaum terpelajar  dan pusat percontohan keindahan beragam karya manusia. Misalnya, keindahan tata ruang dna taman sekolah, kerapian pakaian seragam sekolah, kebersihan dan keharuman kamar kecil sekolah, keindahan senyum pendidik dan par pelajar. Terpicunya gairah belajar, sangat ditentukan oleh keindahanlingkungan sekolah. Indah tidak selalu berarti megah dan mewah.
Santun  pergaulan dan interaksi sosial warga sekolah pasti dibingkai oleh sikap sopan santunsebagai sikap etika  para pelajar. Santun berpenampilan, santun berbicara, dan santun bertindak, didalan lingkungan lingkungan sosial yang lebih luas. Itulah ciri – ciri keterpelajaran dan keadaban manusia. Memelihara kesantunan dalam lingkunganpergaulan masyarakat modern, tidak dengan sendirinya berarti kampungan atau ketinggalan zaman. Sungguh keliru menganggap manusia modern adalah manusia yang meninggalkan tradidisi kesantunan.
Sadar waktu budaya kita sangat menghargai waktu, sebagaimana dicerminkan dalam peribahasa  sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna. Para pelajar pun menghargai dan memanfaatkan sebagian besar waktunya untuk belajar.
Pelajar yang tidak naik kelas atau gagal ujian, boleh jadi diakibatkan ketidak mampuan mengelola waktu. Waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk belajar, malah dihambur – hamburkan untuk berhibur diri memuasi kesenangan sementara. Kegagalan tidak dapat diatsi dengan caramemutar mundur jarum waktu.
Sadar sosial kesadaran kaum pelajar terhadap masalah – masalah sosial kemasyarakatan, ditujukan melalui upaya –upaya menemukan, merumuskan, dan mencari alternatif tindakan pemecahannya. Sumber – sumber masalah sosial seperti penyalahgunaan obat terlarang, pergaulan bebas,  tindakan kriminal, dan sejenisnya; sudah diketahui oleh para pelajar.
Kewajiban selanjutnya adalah menghindari dan mencegahnya. Tanngung jawa sosial para pelajar terhadap pelestarian lingkungan hidup, penderitaan sesama manusia, sebagaimana yang selama ini dikembangkan dalam gerakan organisasi kesiswaan, patut dibudayakan secara berkelanjutan.
Sederhana hidup sederhana dalam arti membatasi diri pada tercukupinya kebutuhan pelajar, penting untuk ditegakan. Memamerkan gaya hidup mewah dan berlebihan dilingkungan sekolah, jelas merupakan tindakan yang tidak terpuji. Para pelajar harus selalu menyadari bahwa sekolah adalah lingkungan sosial yang menanamkan rasa percaya diri karena prestasi, bukan tempat pamer prestise kekayaan atau jabatan orang tua. Pelajar yang hidup prihatin tapi prestasi tinggi, itulah yang menjadi gengsi sekolahdan kebanggaan para pendidik.
Jujur  ada sementara pendapat bahwa bangsa kita sedang dirundung krisis kejujuran atau kepercayaan (trust, honesty). Warga sekolah berkewajibanmenegakan nilai – nilai kejujuran itu. Jujur terhadap hati nurani, terhadap sesama manusia, dan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Mencotek adalah benih ketidak jujuran. Kebiasaan buruk tersebut janganlah dikembangkan menjadi tradisi dan budaya kaum terpelajar. Sekolah yang membiarkan pelajar berbuat curang, atau pelajar yang biasa berbuat tidak jujur, jelas membohongi dirnya sendiri. Segala bentuk prestasi yang diraih dengan cara – car a yang tidak jujur,akan selalu menggelisahkan hati. Demikianlah, faktor utama  pendidikan karakter adalah keteladanan, wujud perilaku nyata dalam kehidupan otentik, dan tidak mungkin dibangun secara instan. Pendidikan karakter harus menjadi sebuah gerakan moral yang menyeluruh, melibatkan berbagai pihak dan jalur, serta berlangsung dalam latar kehidupan alamiah.
                        
C.PERAN KELUARGA, SEKOLAH DAN PELAJAR

Keluarga merupakan penanggung jawab pertama dan utama pendidikan karakter para pelajar.  Masa yang paling peka dan sangat menuentukan adalah pendidikan dalam keluarga yang menjadi tanggung jawab orang tua. Pendidikan keluarga yang tidak dapat digantikan oleh lembaga pendidikan manapun.
Keluarga dipandandang sebagai lembaga yang dapat memenuhi kebutuhan insani terutama bagi pengembangan kepribadian dan keadaban manusia. Keluarga dengan fungsi – fugsi biologis, ekonomis, perlindungan , sosialisasi, rekreatif, dan agamis, merupakan lingkungan pengaruh inti. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluarga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktik, serta rentan terhadap nilai – nilai yang kacau.
Sekolah adalah organisasi yang dirancang untuk pencapaian tujuan – tujuan yang maslahat bagi upaya meningkatkan mutu kehidupan masyarakat. Sekolah juga merupakan unit atau wahana pembudayaan. Oleh karena itu, sekolah dan para pelajar bertanggung jawab membangun budaya sekolah yang mendukung kelangsungan pedidikan karakter para pelajar.
   Pada seorang guru, mengajar adalah penciptaan  sistem lingkungan yang memungkinkan proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni  tujuan intruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang harus memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan,serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia.12
Jika seluruh komponen pendidikan dan pengajaran tersebut dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, maka mutu pendidikan dengan sendirinya akan meningkatk. Namun dari seluruh komponen pendidikan tersebut, gurulah yang merupakan komponen utama. Jika gurunya berkualitas baik, maka pendidikanpun akan baik pula. Kalau tindakan para guru dari hari ke hari bertambah baik, maka akan menjadi lebih baik pulalah keadaan dunia pendidikan kita.
 Sebaliknya kalau tindakan dari hari ke hari makin memburuk, maka akan makin parahlah dunia pendidikan kita. Guru-guru kita dapat disamakkan dengan pasukan tempur yang menentukan kemenangan atau kekalahan dalam peperangan.  Jika mereka ingn menang dalam pertempuran mereka harus memiliki kemampuan, penguasaan dan strategi bertempur yang baik. Dalam hubunganya dengan keberhasilan dalam mendidik, maka guru harus mampu melaksanakan inspiring teaching, yaitu guru melalui kegiatan mengajarnya mampu mengilhami murid-muridnya. Melalui kegiatan mengajarnya yang memberikan ilham ini guru baik adalah guru yang mampu menhidupkan gagasan-gagasan yang besar, keinginan yang besar pada murid-muridnya. Melalui kegiatan mengajar yang memberikan ilham guru yang baik adalah guru yang mampu menghidupkan gagasan-gagasan yang besar, keinginan yang besar pada murid-mudirnya. Kemampuan ini harus dikembangkan, harus ditumbuhkan sedikit demi sedikit. Untuk pengalaman sehari-hari dan memperluas pengetahuanya secara terus-menerus. Untuk menjadi guru yang baik, disamping mengajar ia harus merenung dan membaca. Untuk ini guru membutuhkan waktu. Kalau waktu dihabiskan untuk mengajar dari sekolah  yang satu ke sekolah yang lain setiap hari, dari pagi sampai malam, maka tidak akan ada kesempatan baginya untuk meningkatkan kemapuan sebagai pendidik. Dengan demikian tidak ada harapan baginya untuk meningkatkan mutu pendidikan kita.
  12 JJ.Hasibuan.Dip, Ed.. dkk. Proses belajar mengajar.(Bandung : Remaja Rosdakarya, 1993), cet. V, h.3

D.PERAN PENDIDIKAN DALAM MENGATASI KRISIS AKHLAK
            Krisis akhlak yang semula hanya menerpa sebagian kecil elite politik (penguasa), kini telah menjalar kepada masyarakat luas, termasuk kalangan pelajar. Krisis akhlak pada kaum elite politikterlihat dengan adanya penyelewengan , penindasan, saling menjegal, adu domba, fitnah , menjilat dan sebagainya yang mereka lakukan. Dalam kaitan ini tepat sekali jika headline harian rakyat merdeka. 27 juni yang lalu mengangkat tulisan yang berjudul  pemimpin berwibawa sudah lenyap semua. Pernyataan ini memberi petunjuk bahwa akhlak sebagian besar para elite politik yang pernah dan sedang berkuasa saat ini benar-benar telah merosot dan berdampak pada hilangnya wibawa mereka.
            Sementara itu krisis akhlak yang menimpa pada masyarakat umum terlihat pada sebagian sikap mereka yang dengan mudah merampas hak orang lain (menjarah), main hakim sendiri, melanggar peraturan tanpa merasa bersalah, mudah terpancing emosinya dan sebagainya. Sefangkan krisis akhlak yang menimpa kalangan pelajar terlihat dari banyaknya keluhan orang tua, ahli didik dan orang-orang yang berkecimpungan dalam bidang agama dan sosial berkenaan dengan ulah sebagian pelajar yang sukar dikendalikan, nakal, keras kepala, sering membuat keonaran, tawuran, mabuk-mabukan, pesta obat-obat terlarang, bergaya hidup seperti hippies, bahkan sudah melakukan pembajakan, pemerkosaan, pembunuhan dan perilaku kriminal lainya.
            Krisis akhlak yang menjadi pangkal penyebab timbulnya krisis dalam berbagai bidang kehidupan bangsa Indonesia saat ini belum ada tanda-tandanya untuk berakhir. Keadaan seperti kini dilukiskan oleh syeikh Al-nadvi dalam bukunya madza khasira al-alam bi inbittbath al-Muslim = apa yang diderita  dunia akibat kemerosotan kaum muslimin, (1983:131) bagaikan dunia yang baru saja dilanda gempa dasyat. Disana sini terdapat tiang bergeser, genteng pecah, korban-korban jiwa yang bergempalingan, dan harta benda usnah berserakan. Keadaan seperti inilah yang dihadapi oleh Rosulullah SAW Pada Awal PerjuanganYA. itulah sebabnya fokus perhatian dakwah belum diarahkan pada upaya menyempurnakan akhlak. Dalam salah satu hadisnya beliau mengatakan innama bu’itstu li utammima makarim al-akhlaq = aku diutus (tuhan) ke muka bumi ini semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.
Menghadapi fenomena tersebut, tuduhan seringkali diarahkan kepada dunia pendidikan sebagai penyebabnya. Dunia pendidikan benar-benar tercoreng wajahnya dan tampak tidak berdaya untuk mengatasi krisis tersebut. Hal ini bisa dimengerti, karena pendidikan berada pada barisan terdepan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, dan secara moral memang harus berbuata demikian. Itulah sebabnya belakangan ini banyak sekali seminar yang digelar kalangan pendidik yang bertekad mencari solusi untuk mengatasi krisis akhlak. Para pemikr pendidikan menyerukan agar kecerdasan akal diikuti dengan kecerdasan moral, pendidikan agama dan pendidikan moral harus siap menghadapi tantangan global, pendidikan harus memberikan kontribusi yang nyata dalam mewujudkan masyarakat yang semakin berbudaya ( masyarakat madani ) dan sebagainya.
            Namun seminar yang berakhiran dengan ,menyampaikan seruan saja tidaklah cukup. Yang diperlukan sekarang adalah segera melakukan langkah-langkag konkrit untuk mengatasinya, yang dimulai dengan mencari akar penyebabnya dan dilanjutkan dengan langkah-langkah penenanganya, sebagaimana yang pernah dilakukan para ulama islam diakhir abad klasik (tahun ke-XIII M).
Sejarah mencatat, bahwa diakhir abad klasik krisis akhlak pernah melanda dunia islam. Pada masa itu ukhuwah islamiyah sudah terkoyak-koyak oleh kepentingan politik, golongan faham dan kesukuan. Satu kerajaan islam dengan kerajaan islam lainya saling bermusuhan dan berperang. Para penguasa saat itu sudah banyak yang terlibat dalam pembuatan yang memperturutkan hawa nafsu, korupsi, kolusi dan nepotisme. Sedangkan putera-putera mahkota sudang banyak bergelimang dengan perbuatan maksiat, berkelahi antara satu dan lainya karena memperebutkan kedudukan, harta dan pengaruh. Akibatnya sulit dijumpai calon putera mahkota yang benar-benar memiliki kualitas kepribadian, intelektual dan kemampuan lainya yang handal. Dan ketika Hulagu Khan menghancurkan baghdad pada tahun 1258, orang-orang islam sedang berada dalam kbarat menyebutkan sebagai orang eadaan sakit. The sickman of arab (orang arab yang sedang sakit).
Mengahadapi keadaan yang demikian, para ulama mengarahkan kegiatan pendidikan untuk membina akhlak. Al Ghazali ( W.1111 M ) misalnya mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan budi pekerti yang mencangkup penanaman kualitas moral dan etika seperti kepatuhan, kemanusiaan, kesederhanaan, dan membenci terhadap perbuatan buruk seperti pola hidup berfoya-foya dan kemunkaran lainya.
Sebelum itu ibn Miskawaih ( W. 1030 M ) telah pula mengembangkan teori tentang akhlak. Menurutnya akhlak tidak bersifat natural atau pembawaan, tetapi hal itu perlu diusahakan secara bertahap, antara lain melalui pendidikan.
Gerakan pembinaan akhlak melalui pendidikan ini dilakukan oleh ulama-ulama berikutnya. Hasilnya memang cukup mengagumkan. Akhlak masyarakat mulai meningkat, tetapi perhatian tehadap ilmu pengetahuan atau pembinaan terhadap kecerdasan intelektual tertinggal, akibatnya mulai diabad pertengahan umat islam tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan. Keharusan menciptakan keseimbangan antara kecerdasan akhlak dengan keecrdasan intelektual menjadi tidak seimbang, dan upaya untuk menciptakan keseimbangan ini tampak belum berhasil. Keadaan sekarang menunjukan bahwa pendidikan telah berhasil membina kecerdasan intelektual, tetapi belum berhasil membina kecerdasan akhlak, dengan tanda-tandanya sebagaimana tersebut diatas. Kini perhatian untuk mengatasi krisis akhlak muncul kembali dengan terlebih dahulu mencari akar penyebabnya.
            Akar-akar penyebab timbulnya krisis akhlak tersebut cukup banyak. Yang terpenting diantaranya adalah sebagai berikut.
            Pertama, krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan agama yang menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam (self control ). Selanjutnya alat pengontrol perpindahan kepada hukum dan masyarakat. Namun karena hukum dan masyarakat juga sudah lemah, maka hilanglah seluruh alat kontrol. Akibatnya manusia dapat berbuat sesuka hati dalam melakukan pelanggaran tanpa ada yang menegur.
            Kedua, krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang di lakukan oleh orang tua, sekolah dan masyarakat sudah kurang efektif.
Ketiga, krisis akhlak terjadi disebabkan derasnya arus budaya hidup materialistik, hedonistik, dan sekularistik. Derasnya arus budaya yang demikian itu didukung oleh para penyandang modal yang semata – mata mengeruk keuntungan material dengan memanfaatkan para remaja tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan akhlak. Seperti peredaran obat terlarang,buku porno, alat kontrasepsi dan sebagainya.
Keempat,terjadi karena belum adanya kemauan yang sungguh – sungguh dari pemerintah.

3 komentar:

umi hani mengatakan...

siiiip :)

Lely Chint mengatakan...

Orang pintar tp karakter'y rendah,..ga jauh beda sama hewan...

Dwi Fefriani mengatakan...

intinya menanamkan akhlak yang baik pada seorang anak yang dimulai dari kecil agar dia memiliki karakter yang baik